" Saya adalah pengembara yg mencari kebenaran. Saya adalah manusia yg mencari erti sebenar kemanusiaan. Saya adalah seorang warganegara yg impikan sebuah negara yg dihormati, merdeka, tenteram dan hidup harmoni di bwh naungan Islam yg murni." " Saya hanyalah ibarat seorang yg memahami rahsia hidupnya. Sembahyangku, ibadatku,hidupku dan matiku hanya utk ALLAH tuhan sekalian alam, tiada yg mempersekutui NYA. Inilah yg diperintahkan kpd saya dan saya salah seorang yg menyerahkan diri." ~Assyahid Imam Hasan Al- Banna~
Daripada Umm Salamah, isteri Nabi SAW, katanya(di dalam sebuah hadis yang panjang): Aku berkata, "Wahai Rasulullah! Adakah wanita di dunia lebih baik atau bidadari?" Baginda menjawab, "Wanita di dunia lebih baik daripada bidadari sebagaimana yang zahir lebih baik daripada yang batin." Aku berkata, "Wahai Rasulullah! Bagaimanakah itu?" Baginda menjawab, "Dengan solat, puasa dan ibadat mereka kepada Allah, Allah akan memakaikan muka-muka mereka dengan cahaya dan jasad mereka dengan sutera yang berwarna putih,berpakaian hijau dan berperhiasan kuning….(hingga akhir hadis)" (riwayat al-Tabrani).
Seorang gadis kecil bertanya ayahnya, "Ayah ceritakanlah padaku perihal muslimah sejati?" Si ayah pun menjawab, "Anakku,seorang muslimah sejati bukan dilihat dari kecantikan dan keayuan wajahnya semata-mata.Wajahnya hanyalah satu peranan yang amat kecil,tetapi muslimah sejati dilihat dari kecantikan dan ketulusan hatinya yang tersembunyi. Itulah yang terbaik". Si ayah terus menyambung, "Muslimah sejati juga tidak dilihat dari bentuk tubuh badannya yang mempersona,tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya yang mempersona itu".
"Muslimah sejati bukanlah dilihat dari sebanyak mana kebaikan yang diberikannya ,tetapi dari keikhlasan ketika ia memberikan segala kebaikan itu.Muslimah sejati bukanlah dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan.Muslimah sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa,tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara dan berhujah kebenaran". Berdasarkan ayat 31,surah An Nurr,Abdullah Ibnu Abbas dan lain-lainya berpendapat, "Seseorang wanita islam hanya boleh mendedahkan wajah,dua tapak tangan dan cincinnya di hadapan lelaki yang bukan mahram". (As syeikh said hawa di dalam kitabnya Al Asas fit Tasir).
"Janganlah perempuan -perempuan itu terlalu lunak dalam berbicara sehingga menghairahkan orang yang ada perasaan dalam hatinya,tetapi ucapkanlah perkataan yang baik-baik". (surah Al Ahzab:32). "Lantas apa lagi ayah?"sahut puteri kecil terus ingin tahu. "Ketahuilah muslimah sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian grand tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya melalui apa yang dipakainya. Muslimah sejati bukan dilihat dari kekhuwatirannya digoda orang di tepi jalanan tetapi dilihat dari kekhuwatirannya dirinyalah yang mengundang orang tergoda".
"Muslimah sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani tetapi dilihat dari sejauh mana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa redha dan kehambaan kepada TUHAN nya,dan ia sentiasa bersyukur dengan segala kurniaan yang diberi.Dan ingatlah anakku muslimah sejati bukan dilihat dari sifat mesranya dalam bergaul tetapi dilihat dari sejauh mana ia mampu menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul".
Setelah itu si anak bertanya, "Siapakah yang memiliki criteria seperti itu ayah?Bolehkah saya menjadi sepertinya?mampu dan layakkah saya ayah?". Si ayah memberikan sebuah buku dan berkata,"Pelajarilah mereka!supaya kamu berjaya nanti.INSYA ALLAH kamu juga boleh menjadi muslimah sejati dan wanita yang solehah kelak,malah semua wanita boleh". Si anak pun segera mengambil buku tersebut lalu terlihatlah sebaris perkataan berbunyi ISTERI RASULULLAH. – (Riwayat Imam Ahmad)
"Jika seseorang wanita menunaikan solat lima waktu, berpuasa sebulan Ramadan, memelihara kehormatannya, mentaati suaminya, nescaya dia dapat masuk ke mana-mana saja pintu syurga menurut kehendakinya."
Muslim feminists tend to raise the issue of justice between genders by saying that Islam oppresses women when it comes to the matter of inheritance. Allah says in the Quran, "Allah (thus) directs you as regards your children's (inheritance): to the male, a portion equal to that of two females…." (4:11).[1] The term justice itself is very subjective. Justice does not mean equality but it means putting things at their proper place in accordance to their necessities.
From the Islamic perspective, men, be he a husband, a brother or a son, have bigger responsibilities compared to women. They have responsibilities towards their dependant and to the society as had been mentioned in the previous verse that men are charged with the maintenance of all the women and children in their family whereas the property that women get from inheritance is for her alone and is entirely her own. However, women can get more than what they got by a special legal will called 'wasiyya'. [2]
Fourth issue: Marriage and polygamy
The question of polygamy in Islam had been given great concern not only as an argument against Islam by Non-Muslim but also by many Muslim women who are in worry that their husbands are going to take another wife as it is allowed in Islam. They argue that polygamy is a form of oppression towards women. Allah says in the Quran:
If you fear that you shall not be able to deal justly with the orphans, marry women of your choice, two or three or four; but if you fear that you shall not be able to deal justly (with them), then only one or (a captive) that your hands possess… (4:3).[3]
From the verse above, it is clear that Islam allows polygamy with certain conditions and restrictions. Polygamy is indeed allowed but it is not obligatory. "Islam does not impose polygamy as a universal practice. One should therefore regard monogamy as the norm and polygamy as the exception".[4] There are rules that should be followed by men who intend to practice polygamy. The husbands should first get permissions from their wives. The wives and their families have the right to know and even reject the marriage if the husbands are not qualified.[5] This shows that Islam really emphasizes on doing good to wives and to glorify their status. Besides, the wives should be treated equally as had been mentioned in the above verse. Otherwise, monogamy is encouraged.
In conclusion, marriage should be sincerely intended to seek the pleasure of Allah. History shows that the prophet had married more than one woman at the same time throughout his life. There are a lot of reasons and benefits behind it as had been mentioned before. During the ancient's ace, one of the reasons to practice polygamy is due to inevitably large numbers of widows, girls and orphans as a result from wars.[6] This seems beneficial to women since women outnumber men. "It may be better to accept the reality temporarily until the balance is restored, rather than to have them suffer psychologically and socially".[7] This is due to the nature that women need men's protection and care since both compliments each other. Likewise, women still outnumber men. According to a research done in United Kingdom, "There were 30.7 million females compared with 29.5 million males in the UK population mid-2005".[8]
There are certain circumstances in which polygamy is encouraged such as when the first wife is chronically sick or infertile. Besides, this condition also applies to the situation called eternal triangle when the husband has an affair with another women.[9] Now, let's look at some of the benefits from polygamy. Polygamy can prevent adultery and other social diseases related to it such as mistresses, out of wed-lock baby and others. The original scripture of Jews which is the Old Testament had also mentioned about the practice of polygamy but it is just that their followers who rejected it. According to Fathi Othman:
The difference is that while the Western man has no legal obligations to his second, third or fourth mistresses and their children, the Muslim husband has complete legal obligations towards his second, third or fourth wife and their children.[10]
The Islamic law ensures the rights of the wives and also their children whereas the West neglects it. Polygamy also ensures the security of marriage as polygamy prevents family break-up and other problems accompanying it compared to the other available alternatives such as divorce.
Furthermore, the concept of dowry in Islam is different from other cultures and religions. In Islam, the dowry is specially given to the bride from the groom as a symbol of glory and appreciation. The husband has no right to the dowry whereas in Europe, the dowry is given by the father of the bride to the groom and it becomes the husband's property. On the contrary, the dowry in Africa is given as a form of compensation or payment to the father of the bride.[11]
Verily, Islam really elevates women status in many ways. The rights of women are also protected by the Islamic law which was revealed by Allah for the benefit of all humankind. There are also many examples of successful women in the past which should be adopted as icons or models by contemporary women. By following the Islamic law, we are in the journey for seeking the pleasure of Allah.
[1] 'Ali, A. Y., The Holy Quran Text and Translation, (Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2005) 87.
[2]Lemu, B. A. & Heeren, F., Women In Islam, (United Kingdom: Islamic Council Of Europe, 1978) 24-25 and Othman, F., Muslim Women In The Family And The Society, (California: Minaret Publications, 1996) 23.
[3] 'Ali, A. Y., The Holy Quran Text and Translation, (Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2005) 85.
[4]Lemu, B. A. & Heeren, F., Women In Islam, (United Kingdom: Islamic Council Of Europe, 1978) 27.
[5]Othman, F., Muslim Women In The Family And The Society, (California: Minaret Publications, 1996) 28.
[6]Lemu, B. A. & Heeren, F., Women In Islam, (United Kingdom: Islamic Council Of Europe, 1978) 28.
[7] Othman, F., Muslim Women In The Family And The Society, (California: Minaret Publications, 1996) 28.
There are several verses in the Quran and sayings of the hadiths which had been differently interpreted between the ancient scholars (salafi) and the contemporary scholars (khalafi). This happened due to the different ways the verses or the sayings of the hadiths were translated. The salafi tended to interpret them by means of "generality of its wording"[1] whereas the khalafi used the method of understanding the whole context and "specificity of the occasion".[2] One of the authentic hadiths narrated by the companion, Abu Bakar shows a good example of the difference in the interpretation of hadith.
Abu Bakra at the time of the Battle of the Camel said that when the prophet Muhammad heard that the Persians were ruled by a woman, he said: 'A people which has a woman as leader will never prosper'.[3]
The salafi scholars rejected the female leadership based on this hadith but according to Syeikh Muhammad al-Ghazzali in his book, Ibn Hazm supports the female participation in politics as well as other positions except that of caliph. This view is highly supported by some other scholars such as Jamal Badawi and Islamist women. According to Muhammad al-Ghazzali, this hadith was expressed to the young Persian Princess who had been elected as the leader through inheritance and not through consensus or 'syura'.[4]
The subject of this hadith is clearly not about the matter of gender but more pertaining to the particular nation. There are various opinions about female leadership in Islam but as far as we are concerned through some reviews, Islam does not prohibit women to participate in politics and other leaderships as long as the candidates are qualified enough to bear the responsibilities.[5]
To be continued..
[1] Roald, A. S., Women In Islam: The Western Experience, (London: Routledge, 2001) 190.
For the first time, I had posted my own writing without plagiarism..huhu..this writing was taken from my group term paper UNGS 2040 entitled Common Misconceptions About Islam. Thanks to Allah for His blessings, Sir Munawar, my beloved lecturer for his guidances and also to all my group members, Anis, Farisya and Farhana for your full coorperations. May Allah bless you..Enjoy it....
MISCONCEPTION ABOUT WOMEN ISSUES
First Issue: The position of women in the society
Muslims and Non-Muslims nowadays have been exposed to wrong facts about Islam including the issue of gender. They argue that Islam puts position of women after men, which means that women have lower rank in the society compared to men. This statement is very irrelevant due to the fact that Islam elevates women in various ways.
Whoever works righteousness, man or woman, and has Faith, Verily, to him will We give a new Life, a life that is good and pure and We will bestow on such their reward according to the best of their actions (16:97).[1]
The above verse shows that both men and women are indifferent in front of Allah and the only thing that differentiates us is 'taqwa', the consciousness of God. Both men and women will be rewarded equally if they perform good deeds.[2] The prophet had once said that the paradise lies underneath the mother's feet. Islam also put mothers at the highest position based on a hadith narrated by Bukhari and Muslim, which reflects the elevation of women status in the society.
A man came to the Prophet and said, 'O Messenger of God! Who among the people is the most worthy of my good companionship? The Prophet said: Your mother. The man said, 'Then who?' The Prophet said: Then your mother. The man further asked, 'Then who?' The Prophet said: Then your mother. The man asked again, 'Then who?' The Prophet said: Then your father (Bukhari, Muslim).[3]
Men and women both have their own unique responsibilities which had been determined by God. They depend on each other and complete each other's life.[4] Allah says in the Quran:
Husbands are the protectors and maintainers of their wives, because Allah has given the one more (strength) than the other, and because they support them from their means. Therefore, the righteous women are devoutly obedient, and guard in (the husband's) absence what Allah would have them guard… (4:34).[5]
Thus, women should not be treated as just a sheer shadow of men. Islam also emphasizes the need to be kind towards wives and families. The prophet had said in one hadith, "The best among you are those who are kindest to their wives".
To be continued...
[1] 'Ali, A. Y., The Holy Quran Text and Translation, (Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2005) 322.
[2] Lemu, B. A. & Heeren, F., Women In Islam, (United Kingdom: Islamic Council Of Europe, 1978) 22.
Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah Syurga.
Dalam Al Qur'an banyak sekali ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan-kenikmatan Surga. Di antaranya Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
"(Apakah) perumpamaan (penghuni) Syurga yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lazat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?" (Muhammad : 15)
Di samping mendapatkan kenikmatan-kenikmatan tersebut, orang-orang yang beriman kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala kelak akan mendapatkan pendamping (isteri) dari bidadari-bidadari Surga nan rupawan yang banyak dikisahkan dalam ayat-ayat Al Qur'an yang mulia, di antaranya :
"Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik." (Al Waqiah : 22-23)
"Dan di dalam Surga-Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan, menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Syurga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin."(Ar Rahman : 56)
"Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan." (Ar Rahman : 58)
"Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya." (Al Waqiah : 35-37)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menggambarkan keutamaan-keutamaan wanita penduduk Syurga dalam sabda beliau :
" … seandainya salah seorang wanita penduduk Syurga menengok penduduk bumi niscaya dia akan menyinari antara keduanya (penduduk Surga dan penduduk bumi) dan akan memenuhinya bau wangi-wangian. Dan setengah dari kerudung wanita Syurga yang ada di kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan isinya." (HR. Bukhari dari Anas bin Malik radliyallahu 'anhu)
Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
Sesungguhnya isteri-isteri penduduk Syurga akan memanggil suami-suami mereka dengan suara yang merdu yang tidak pernah didengarkan oleh seorangpun. Di antara yang didendangkan oleh mereka : "Kami adalah wanita-wanita pilihan yang terbaik. Isteri-isteri kaum yang termulia. Mereka memandang dengan mata yang menyejukkan." Dan mereka juga mendendangkan : "Kami adalah wanita-wanita yang kekal, tidak akan mati. Kami adalah wanita-wanita yang aman, tidak akan takut. Kami adalah wanita-wanita yang tinggal, tidak akan pergi."(Shahih Al Jami' nomor 1557)
Ciri-ciri wanita syurga
Isteri-isteri kaum Mukminin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tersebut akan tetap menjadi pendamping suaminya kelak di Syurga dan akan memperoleh kenikmatan yang sama dengan yang diperoleh penduduk Surga lainnya, tentunya sesuai dengan amalnya selama di dunia.
Di antara ciri-ciri wanita ahli Surga adalah :
1.Bertakwa.
2.Beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan takdir yang baik dan buruk.
3.Bersaksi bahawa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu.
4.Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah dan dia mengetahui bahwa Allah melihat dirinya.
5.Ikhlas beribadah kerana Allah, tawakkal, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap azab Allah, mengharap rahmat Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya.
6.Gemar membaca Al Qur'an dan berusaha memahaminya, berzikir mengingat Allah ketika sendirian atau tidak dan berdoa kepada Allah semata.
7.Menghidupkan amar ma'ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat.
8.Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap haiwan ternak yang dia miliki.
9.Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang, menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang menzaliminya.
10.Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia.
11.Adil dalam segala perkara terhadap seluruh makhluk.
12.Menjaga lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah).
13.Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya.
14.Berbakti kepada kedua orang tua.
15.Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh.
Demikian beberapa ciri-ciri wanita Ahli Syurga yang kami sadur dari kitab Majmu' Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah juz 11 halaman 422-423. Ciri-ciri tersebut bukan merupakan suatu batasan tetapi ciri-ciri wanita Ahli Syurga seluruhnya masuk dalam kerangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta'ala berfirman :
" … dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang besar." (An Nisa' : 13)
1 . Bulu kening Menurut Bukhari " Rasullulah melaknat perempuan yang mencukur ( menipiskan bulu kening atau meminta supaya dicukurkan bulu kening) " Riwayat Abu Daud Fi Fathil Bari
2 . Kaki ( tumit kaki ) " Dan janganlah mereka ( perempuan ) membentakkan kaki ( atau mengangkatnya ) agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan " An-Nur : 31
a ) menampakkan kaki b ) menghayungkan/melenggokkan badan mengikut hentakkan kaki
3 . Wangian " Siapa sahaja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka itu mencium baunya , maka wanita itu telah dianggap melakukan zina dan tiap-tiap mata ada zina " Riwayat Nasaii , Ibn Khuzaimah dan Hibban
4 . Dada " Hendaklah mereka (perempuan) melabuhkan kain tudung hingga menutupi dada-dada mereka " An-Nur : 31
5 . Gigi " Rasullulah melaknat perempuan yang mengikir gigi atau meminta supaya dikikirkan giginya " Riwayat At-Thabrani
" Dilaknat perempuan yang menjarangkan giginya supaya menjadi cantik , yang merubah ciptaan Allah " Riwayat Bukhari dan Muslim
6 . Muka dan leher " Dan tinggallah kamu (perempuan) di rumah kamu dan janganlah kamu menampakkan perhiasan mu seperti orang jahilliah yang dahulu " a ) bersolek ( make-up ) b ) menurut Maqatil : Sengaja membiarkan ikatan tudung yang menampakkan leher seperti orang Jahilliyah
7 . Muka dan Tangan " Asma Binte Abu Bakar telah menemui Rasullulah dengan memakai pakaian yang tipis . Sabda Rasullulah : Wahai Asma ! Sesungguhnya seorang gadis yang telah berhaidh tidak boleh baginya menzahirkan anggota badan kecuali : pergelangan tangan dan wajah saja " Riwayat Muslim dan Bukhari
8 . Tangan " Sesungguhnya kepala yang ditusuk dengan besi itu lebih baik daripada menyentuh kaum yang bukan sejenis yang tidak halal baginya " Riwayat At Tabrani dan Baihaqi
9 . Mata " Dan katakanlah kepada perempuan mukmin hendaklah mereka menundukkan sebahagian dari pemandangannya " An Nur : 31
" Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya . Kamu hanya boleh pada pandangan yang pertama , ada pun pandangan seterusnya tidak dibenarkan " Riwayat Ahmad , Abu Daud dan Tirmidzi
10 . Mulut ( suara ) " Janganlah perempuan-perempuan itu terlalu lunak dalam berbicara sehingga berkeinginan orang yang ada perasaan serong dalam hatinya , tetapi ucapkanlah perkataan-perkataan yang baik " Al Ahzab : 32
" Sesungguhnya akan ada umat ku yang minum arak yang mereka namakan dengan yang lain , iaitu kepala mereka dilalaikan oleh bunyi-bunyian (muzik) dan penyanyi perempuan , maka Allah akan tenggelamkan mereka itu dalam bumi ..Riwayat Ibn Majah
11 . Kemaluan " Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan mukmin , hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka (jangan berzina ) " An Nur : 31
" Apabila seorang perempuan itu sembahyang lima waktu , puasa di bulan Ramadhan , menjaga kemaluannya (tidak berzina) dan menta'hati suaminya , maka masuklah ia kedalam syurga daripada pintu-pintu yang ia kehendakinya " Riwayat Al Bazzar
" Tiada seorang perempuan pun yang membuka pakaiannya bukan dirumah suaminya , melainkan dia telah membinasakan tabir antaranya dengan Allah " Riwayat Tirmidzi , Abu Daud dan Ibn Majah
12 . Pakaian " Barangsiapa memakai pakaian yang berlebih-lebihan , maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan dihari akhirat nanti " Riwayat Ahmad , Abu Daud , An Nasaii dan Ibn Majah
" Sesungguhnya sebilangan ahli neraka iailah perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang yang condong pada maksiat dan menarik orang lain untuk melakukan maksiat . Mereka tidak akan masuk syurga dan tidak akan mencium baunya " Riwayat Bukhari dan Muslim
a ) Berpakaian tipis / jarang b ) Berpakaian ketat / membentuk c ) Berpakaian berbelah / membuka bahagian-bahagian tertentu
" Hai nabi-nabi katakanalah kepada isteri-isterimu , anak perempuan mu dan isteri-isteri orang mukmin, hendaklah mereka memakai baju jilbab ( baju labuh dan loggar ) yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali . Lantaran itu mereka tidak diganggu . Allah maha pengampun lagi maha penyayang " Al Ahzab : 59
13 . Rambut " Wahai anakku Fatimah ! Adapun perempuan-perempuan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya dalam neraka adalah mereka itu di dunia tidak mahu menutup rambutnya daripada dilihat oleh lelaki yang bukan mahramnya " Riwayat Bukhari dan Muslim
14 . " Bagi wanita-wanita yang memelihara dirinya dan menta'hati suaminya, segala makhluk , burung yang terbang , ikan dilaut , malaikat dilangit matahari dan bulan dan lain-lain memohon keampunan Allah untuknya "